Jumat, 09 Desember 2011

Mari gunakan pewarna alami



Warna merupakan salah satu daya tarik suatu barang, apalagi dalam hal tekstil. Zat warna adalah bahan yang digunakan untuk memberi warna dan atau memperbaiki warna bahan.
 Menurut sumber diperolehnya, zat warna tekstil digolongkan menjadi 2 yaitu :
1. Zat Pewarna Alam (ZPA) yaitu zat warna yang berasal dari bahan-bahan alam pada umumnya dari hasil ekstrak tumbuhan atau hewan.
2. Zat Pewarna Sintesis (ZPS) yaitu Zat warna buatan atau sintesis dibuat dengan reaksi kimia dengan bahan dasar ter arang batu bara atau minyak bumi yang merupakan hasil senyawa turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena, naftalena dan antrasena. (Isminingsih,1978).
Pada awalnya proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Keunggulan zat warna sintetis adalah lebih mudah diperoleh, ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya. IRONIS memang, ketika perajin menghasilkan karya seni yang dihargai banyak orang di berbagai belahan dunia, pada saat yang sama mereka mencemari lingkungan yang mereka tempati. Karena, para perajin umumnya menggunakan pewarna sintetis yang merusak lingkungan. Meskipun dewasa ini penggunaan zat warna alam telah tergeser oleh keberadaan zat warna sintesis namun penggunaan zat warna alam yang merupakan kekayaan budaya warisan nenek moyang masih tetap dijaga keberadaannya khususnya pada proses pembatikan dan perancangan busana. Kini pewarna alam kembali diminati dan berkembang dikalangan pembuat batik walaupun lebih rumit pembuatannya. Alasan utamanya adalah pewarna alam lebih ramah lingkungan dan otomatis hasil warnanya lebih natural..lebih sejuk dipandang mata. Rancangan busana maupun kain batik yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif.
Menurut Andayani , ( 2006 ) keunggulan dari kain tenun yang menggunakan pewarna alam adalah kain tersebut akan kontras dipandang, terasa sejuk, dan menyehatkan kornea mata. Selain itu warna-warna yang dihasilkan dari proses pewarnaan alami cendrung menampilkan kesan luwes, lembut dan tidak akan menghasilkan nada warna yang sama persis meski menggunakan resep yang sama. Penggunaan pewarna  alam pada kain tenun mempunyai nilai lebih tinggi dari pada yang memakai pewarna sintetis, sebab pewarna alam akan menghasilkan warna-warna elegan, bercitrarasa tinggi dan mengurangi pencemaran lingkungan. Pemakian zat warna alam di beberapa negara masih diyakini lebih aman dari pada zat warna sintetis karena sifatnya yang non karsinogen, teknologi pembuatan dan penggunaan yang relatif sederhana. Hal ini sangat cocok untuk industri kecil dan menengah yang pada saat ini sedang digalakkan pemerintah untuk menunjang komoditi eksport. Pengembangan zat warna alam bagi Indonesia yang merupakan daerah tropis sangat potensial karena kaya akan jenis tumbuh-tumbuhan yang dapat menghasilkan zat warna. Dalam proses produksi dan pengguaan zat warna alam, bersih dan ramah lingkungan. Menurut Hakim dkk. ( 1999 ) menghadapi abad ke 21, merupakan abad  yang berorentasi lingkungan, adanya kekewatiran akan dampak lingkungan dari zat warna sintetik yang non  degradable  dan kadangkala menganggu kesehatan, maka keadaan ini diperkirakan akan membangkitkan kembali citra zat warna alam. Oleh karena itu berbagai tumbuh-tumbuhan yang mampu menghasilkan  zat warna akan mempunyai prospek yang baik.
Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dimana di dalamnya terdapat berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna. Dalam modul ini akan dijelaskan teknik eksplorasi zat warna alam dari tanaman di sekitar kita sebagai upaya pemanfaatan kekayaan sumber daya alam yang melimpah sebagai salah satu upaya pelestarian budaya.

Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : daun pohon nila (indofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh (Tea), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa orelana), daun jambu biji (Psidium guajava). (Sewan Susanto,1973). Ragam warna didominasi ke arah coklat, namun bukan berarti tidak ada warna lain. Tergantung produsen dan cara pembuatannya, warna apa yang akan ditonjolkan. Sebab pada dasarnya ada tumbuhan pewarna alam yang menghasilkan warna merah, biru, maupun kuning, sehingga dapat dibuat warna tunggal dan kombinasi dari ketiga warna primer tersebut. Bahan tekstil yang diwarnai dengan zat warna alam adalah bahan-bahan yang berasal dari serat alam contohnya sutera,wol dan kapas (katun). Bahan-bahan dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas atau daya tarik terhadap zat warna alam sehingga bahan-bahan ini sulit terwarnai dengan zat warna alam. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.

Salah satu kendala pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam adalah ketersediaan variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna tekstil. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya. Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif. Untuk itu, sebagai upaya mengangkat kembali penggunaan zat warna alam untuk tekstil maka perlu dilakukan pengembangan zat warna alam dengan melakukan eksplorasi sumber-sumber zat warna alam dari potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Eksplorasi ini dimaksudkan untuk mengetahui secara kualitatif warna yang dihasilkan oleh berbagai tanaman di sekitar kita untuk pencelupan tekstil. Dengan demikian hasilnya dapat semakin memperkaya jenis –jenis tanaman sumber pewarna alam sehingga ketersediaan zat warna alam selalu terjaga dan variasi warna yang dihasilkan semakin beragam. Eksplorasi zat warna alam ini bisa diawali dari memilih berbagai jenis tanaman yang ada di sekitar kita baik dari bagian daun, bunga, batang, kulit ataupun akar. Sebagai indikasi awal, tanaman yang kita pilih sebagai bahan pembuat zat pewarna alam adalah bagian tanaman – tanaman yang berwarna atau jika bagian tanaman itu digoreskan ke permukaan putih meninggalkan bekas/goresan yang berwarna. Pembuatan zat warna alam untuk pewarnaan bahan tekstil dapat dilakukan menggunakan teknologi dan peralatan sederhana.
Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pewarna kain tenun antara lain jambal (Peltophorum pterocarpum Back.), teh (Camelia sinensis O.K. var.  Assamica  ( Mast ), temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), sebagai penghasil warna cokelat. Akar mengkudu (Morinda citrifolia L. ) dan daun teruntum ( Lumnitzeralittorea ) menghasilkan warna merah dan biji nila  ( Indigofera tintectoria ) untuk warna biru ( Andayani, 2006 ). Menurut Wardah dkk. ( 1999 ), biji –biji dari buah  pinang ( Areca catechu L. ) yang belum masak dihaluskan ditambah alkali sehingga menghasilkan warna merah anggur, dapat digunakan untuk mewarnai katun. Tarum (Marsdenia tincloria R.Br ) bermanfaat sebagai bahan pewarna biru dapat mewarnai katun.   Apabila benang dicelupkan pada campuran  larutan selaput biji kesumba keling (Bixa orellana L.) dengan abu kulit durian (Durio zibethinus) , larutan kayu sapan (Caesalpinia)  dan tawas maka benang tersebut berwarna kuning keemasan.ahan tekstil dapat dilakukan menggunakan teknologi dan peralatan sederhana.

Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pewarna kain tenun antara lain jambal (Peltophorum pterocarpum Back.), teh (Camelia sinensis O.K. var.  Assamica  ( Mast ), temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), sebagai penghasil warna cokelat. Akar mengkudu (Morinda citrifolia L. ) dan daun teruntum ( Lumnitzeralittorea ) menghasilkan warna merah dan biji nila  ( Indigofera tintectoria ) untuk warna biru ( Andayani, 2006 ). Menurut Wardah dkk. ( 1999 ), biji –biji dari buah  pinang ( Areca catechu L. ) yang belum masak dihaluskan ditambah alkali sehingga menghasilkan warna merah anggur, dapat digunakan untuk mewarnai katun. Tarum (Marsdenia tincloria R.Br ) bermanfaat sebagai bahan pewarna biru dapat mewarnai katun.   Apabila benang dicelupkan pada campuran  larutan selaput biji kesumba keling (Bixa orellana L.) dengan abu kulit durian (Durio zibethinus) , larutan kayu sapan (Caesalpinia)  dan tawas maka benang tersebut berwarna kuning keemasan.

2 komentar:

  1. artikel yg menarik. andaikan lebih dirinci lagi seperti, bagian mana dari tumbuhan tsb yg digunakan sbg pewarna alami, proses pembuatan pewarna alaminya dari tumbuhan tertentu, ini akan lebih memudahkan user. terima kasih atas pencerahannya. Salam!

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas sarannya..
    oia, proses pembuatannya ada di tulisan saya yang lain setelah tulisan ini..

    BalasHapus